TIADA KISAH PALING INDAH




Hari itu, November 2013 hari tak begitu cerah, awan seperti menari dan semua mata berebut untuk melihatnya, rumput bersunggut-sunggut diterpa angin yang berhembus pelan. Ada keributan dikelas sebelah, aku dan Cia duduk didepan kelas seperti tak mendengar apapun, hanya hening lalu kami saling menatap tiga detik kemudian tertawa bersama. Begitulah aku dan Cia bicara tanpa bahasa dan selalu mengerti tanpa harus bicara. Keheningan kami diantara keributan yang meraung disekolah membuat kami merasa aneh itulah sebabnya kami saling tatap lalu tertawa. Belum habis tawa dibibirku datanglah imah mendekati aku sambil berlari.
            “Yaya, Rudi pindah sekolah kesini” sambil memegang tanganku keras
            “Kamu serius?”
            “Serius ya… Dia lagi disebelah kelas 11 IPA, duduk disana sama Alfan” serunya panik
            “Cia yuk temani aku mastikan itu beneran rudi atau tidak” sambil menarik tangan Cia. Tanpa menunggu persetujuannya aku sudah menariknya.
            “Emang rudi itu siapa sih ya?” Tanya Cia kebingungan
            “Rudi itu mantan Imah, temannya Nanda mantan aku, kamu ingat kan?”
            “Oh… pantesan kamu ikutan histeris seperti Imah”
Aku mengabaikan kalimat Cia kami sampai di belakang  kelas 10C yang berseberangan dengan kelas 11 IPA, aku mengintip sedikit dari balik tembok. Benar, Rudi ada disana. Tak ada yang berubah dari dirinya setelah 4 bulan lalu sewaktu aku, Nanda, Imah, dan dia bertemu di rumah Imah. Kepala Rudi masih botak sama seperti 4 bulan lalu.
            “Cia, kita lewat dari samping 10C ya, tapi cuek aja, pura-pura tidak melihat kesamping supaya tidak ketahuan kalau kita lagi memperhatikan Rudi”
            “oke ya”
Kami berdua bergandengan tangan jalan lurus kedepan tanpa liat samping kanan kiri.
            “Itu Yaya, Rud” Alfan berkata pada Rudi
            “Oh… Sombong betul Yaya, Fan” Kata rudi
Demi mendengar itu aku ingin sekali melempar mereka dengan sepatu. Tapi tidak mungkin. Masalahnya akan semakin panjang karena aku tahu mereka mulai tidak menyukaiku sejak aku memutuskan Nanda demi Wijaya kakak kelas yang sekarang menjadi pacarku. Aku terus berjalan dan belok kedepan 10C kemudian kembali duduk kedepan kelas. Imah sudah tidak ada disana mungkin ke kantor atau ke kantin.
            Keesokan harinya. Pagi suasana masih hening sebelum seberombolan geng-geng SMA datang tertawa entah menertawakan apa. Aku duduk didepan seperti biasa dengan Cia. Kemudian Rudi melintas dihalaman depan bersama Alfan dan dua orang teman lainnya.  Aku menatapnya dari kejauhan.
            “Liat deh, sepatu si anak baru, warnanya biru. Pakai topi lagi kesekolah. Bukan topi sekolah lagi” seru Cia merasa  kesal
Aku tidak berkomentar hanya menatapnya berlalu didepanku. Inilah untuk pertama kali aku menatapnya sampai nanti sebuah kisah terukir antara aku dan Rudi.

***

Berbulan-bulan sudah berlalu dari pertama kali Rudi masuk ke sekolahku dan dia ditempaatkan dikelas yang sama denganku, 10A. Banyak teman wanita yang suka melihat Rudi dengan wajah dan kelakuan polosnya. Rudi juga cendenrung pendiam dan hanya berbicara sesekali dengan Alamsyah teman sebangkunya. Mereka duduk di tempat duduk paling belakang barisan tempat duduk aku dan Cia sedangkan kami duduk di barisan paling depan. Rudi kerap dijadikan bahan bullyan dan di godain oleh teman-teman wanita dikelas. Aku hanya tersenyum melihat setiap kali mereka memanggil Rudi dengan panggilan aneh-aneh. Dan aku juga sudah tahu, Rudi berpacaran dengan Ana siswi dari kelas 10B. Ana seorang gadis yang terkenal cukup asik dan ceriwis. Namun jika sudah berhadapan dengan Rudi dia bisa menjadi wanita paling pendiam sedunia. Terkadang lucu melihat mereka.
Suatu hari dipelajaran Ekonomi Ibu Hatmi meminta Rudi untuk pindah duduk didepan dengan aku.  Aku spontan terkejut, kenapa harus dengan aku? Kenapa tidak dengan Cia atau Hasanah?
Tapi tak akan ada murid yang berani melawan perintah bu Hatmi. Aku menurut saja daripada harus bermasalah dengannya. Akhirnya aku duduk disampin rudi dibarisan paling depan, tepat didepan meja ibu hatmi.
            “Hai” suara khas Rudi menyapa
            Aku hanya tersenyum. Sepanjang pelajaran aku hanya diam. Sampai pada saat dimana ibu hatmi meminta kami diskusi dan dia pergi ke kantor.
            “kamu udah paham kan apa yg ibu Hatmi jelasin?” untuk pertama kalinya aku berbicara dengannya. Karena selama ini aku hanya memandangnya tak berbicara sama sekali sejak pertama bertemu dengannya bersama Nanda dulu.
            “belum sih. Kalau yaya bersedia jelasin ke Rudi, Rudi pasti paham”
            Aku menyengir dan salah tingkah mengambil kotak pensil. Alhasil kotak itu jatuh dan isinya berantakan. Rudi menunduk lalu membereskannya dan memberikannya padaku.
            “Ini. Lain kali hati-hati Yaya!” sambil tersenyum
            Ya Tuhan. Aku semakin menggila dalam hati. Untuk pertama kali aku menatap mata seorang pria  yang terkenal lembut kepada semua orang. Itu sebabnya ia kerap dijadikan bahan bullyan di kelas.
            “Makasih” kataku. “oh iya, kabar Nanda gimana?” tanyaku basa-basi.
            “Bukannya masih sering komunikasi sama Nanda?” tanyanya heran.
            “Iya masih. Tapi udah sebulan ini enggak” aku ingat terakhir Nanda mendatangi rumahku sebulan lalu. Jujur saja, dia datang hanya ingin melihat aku dan mengatakan selamat atas hubungan baruku  dengan Wijaya. Selalu itu yang Nanda sampaikan. Tanpa dia tau sebenarnya jauh didalam hatiku, aku masih sangat mengharapkan Nanda.
            “Dia sakit” kata Rudi.
            “Hah!” aku terkejut. “Sakit apa?”
            “Katanya sih sakit lambung. Jarang makan. Mikiri kamu. Rindu katanya ” seru Rudi sambil tertawa.
            Aku mencubit lengannya. Aku legah. Bagaimanapun aku tetap akan khawatir pada Nanda.
            “Boleh mintak nomor kamu gak ya?” kata Rudi
            “Untuk apa?”
            “Yaya gak dengar apa yang ibu Hatmi bilang? Aku disuruh belajar sama Yaya, karena Yaya dianggap paling pintar disini. Dan aku dianggap yang paling bodoh”
            Demi mendengar itu aku spontan tertawa terbahak-bahak. Lalu aku menulis nomor handphone milikku dihalaman belakang bukunya.
Sejak hari itu, aku dan Rudi berteman.

Bersambung

Komentar

  1. Cerita yang bagus dan sangat dinantikan kelanjutannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hari ini kelanjutan ceritanya akan saya posting. Terimakasih sudah memberi komen💛

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer