TIADA KISAH PALING INDAH (2)



4 April 2014, hari itu aku tidak sekolah, malas. Lebih tepatnya malas bangkit dari tempat tidur, karena sedang sakit. Entah apa yang sedang terjadi disekolah, aku tidak mau tahu. Lebih memilih memejamkan mata dan membayangkan aku bisa sembuh dan bermain hujan di halaman rumah sambil menari dan melompat-lompat bagai kuda.

2 hari kemudian aku sembuh. Aku bersekolah. Diantar bapak kepala rumah tangga di rumahku. Sama seperti biasanya, aku jarang sekali tersenyum pada orang lain sebelum mereka menyapa duluan. Sampai dikelas aku enggan kemana-mana, hanya duduk di kursi dan meminjam buku Cia untuk mempelajari materi yang aku tinggalkan selama 3 hari. Rina, dia temanku sejak TK, datang mendekatiku.
            “Ya, kemarin kamu tau gak ada  kejadian romantis” Rina bersemangat hendak bercerita
            Aku menutup buku dan mendengarkan Rina “kejadian apa?”
            “Waktu Ana ulang tahun, tanggal 4 kemarin, waktu kamu sakit, Ana dikerjain sama temannya. Dia di ikat di tiang volley terus dilempar tepung sama telur”
            “Terus? Apa romantisnya?” tanyaku heran
            “Iya. Terus Rudi datang dekati dia. Ngusap wajah Ana pakai sarung baju melayunya. Terus melepas ikatan Ana. Semua orang bersorak ‘cie’ ke Rudi. Ini itu kejadian romantis yang pernah aku lihat di SMA Ya”
            “Segitu aja? Buang waktu! ” jawabku kesal sambil membuka kembali bukuku.
            “Ih… Yaya ga asik” Rina pergi
            Romantis apanya?  Biasa aja juga.

***

Hari itu 14 April 2014. Umurku tepat 16 tahun. sama seperti hal nya Ana. Aku juga diikat di depan kelas. Mata aku ditutup dengan kain lalu dilempar tepung dan telur. Bedanya tidak ada yang membantuku membuka tali dan mengusap wajahku. Aku hanya ditinggal sendiri dilapangan dan berusaha sendiri membuka ikatan tangan dibelakang tubuhku.
Cukup menyebalkan. Tapi aku tahu, dengan begitu berarti teman-temanku menganggap hari itu spesial buatku. Apalagi setelah menerima bermacam kado dari teman dan Wijaya pacarku.

Setelah pulang, aku mandi dan membuka semua kado. Lalu aku berbaring di ranjang.
Handphoneku berbunyi. Ada pesan. Dari Rudi.
            “Selamat ulang tahun Yaya” Untuk pertama kalinya rudi mengirim pesan aku walaupun sudah lama dia meminta nomor ponselku.
            “Makasih Rud” balasku
            “Lagi apa ya? Udah makan?”
            “Lagi baring-baring aja Rud. Sudah. Kamu?”
Percakapan dengan Rudi melalui pesan cukup lama. Entah mengapa. Senang saja rasanya mengobrol dengan dia. Membahas hal-hal yang tidak penting pun menjadi lebih menyenangkan.
Sejak hari itu aku lebih sering berkomunikasi dengan Rudi.

***

Juni 2016. Aku dan wijaya putus. Wijaya yang memilih mengakhirinya. Dia bilang aku terlalu egois dan aku keras kepala. Benar. Bahkan sampai detik ini aku masihlah orang yang egois dan keras kepala. Tak ada yang bahagia ditinggalkan oleh seseorang yang selalu ada untuk kita. Bahkan demi memilih Wijaya aku meninggalkan Nanda seseorang yang begitu berarti setelah pergi.

Sebulan berlalu. Aku sudah naik kelas 11. Dan aku memilih IPS. Aku fikir Rudi tidak akan naik kelas karena selain kurang pintar, dia juga pemalas dan sering tidak masuk. Namun keberuntungan berpihak padanya. Dia naik kelas.

Hari itu aku duduk di depan kelas, kami masih dikelas lama. Karena administrasi sekolah belum rampung.  Aku menatap jalanan diseberang sana. Angin menyapu lembut wajahku. Rudi datang menghampiri. Dia duduk disebelahku tanpa meminta persetujuanku.
            “Ngapain ya? Bengong aja” sapanya
            “Enggak ada kok Rud. Lagi nenangin fikiran aja”
            “Nanda kirim salam”
            Aku menatapnya “Kamu serius?”
            “Enggak. Aku becanda” jawabnya sambil menyengir bahagia. Berhasil membuatku terkejut.
            Aku memukul lengannya berkali-kali. Padahal aku tadi sudah hampir melompat-lompat mendengar ucapan dia.
            “Sudah, jangan diharapkan lagi. Yang lalu biarkan berlalu”
            Aku diam “Sulit untuk melupakan dia Rud. Aku menyesal. Setelah dia pergi aku baru sadar dia begitu berarti. Bahkan Wijaya sekalipun tidak bisa menggantikan posisi Nanda dihatiku” Aku berterus terang.
            “Aku tahu. Tapi mau kamu menangis darah sekalipun, kamu tetap tidak akan bisa mengulang masa lalu. Apalagi untuk menghapus penyesalan. Sama saja seperti kamu menyikat aspal sampai berwarna putih”
            Aku tersenyum getir. Rudi benar.
“Aku juga lagi sedih ya” suaranya parau
            “Kenapa?”
            “Ana” dia terdiam
            “Ana kenapa?”
            “Entahlah. Aku tahu, dia sering dekat dengan laki-laki lain. Tapi aku hanya diam”
            “Kenapa diam aja Rudi ? Bego banget sih”
            Dia menatap aku. Aku juga menatap dia. Hening. Lalu terdengar suara teriakan Silo. Saudara jauhku.
            “Woi. Rudi!. Jangan kau dekat-dekat embak Yaya-ku”
            Rudi spontan terkejut lalu berdiri dan salah tingkah berjalan ke kelas  10B, dan masuk kedalamnya, dia balik lagi, dia salah kelas, lalu masuk kelas kami, kelas dia sebenarnya mengikuti Silo. Aku tertawa melihatnya.

Sepulang sekolah, Rudi mengirim pesan padaku. Seperti biasa. Hanya basa-basi.
            “Ya, aku mau bilang sesuatu”
            “Bilang apa” aku deg-degan
            “Aku suka sama kamu. Sejak pertama aku liat kamu”
            Aku diam tak membalas. Aku tidak percaya. Mungkin ini hanya pelampiasan Rudi karena dia kecewa dengan Ana.
            “Yaya? Kamu sibuk ya?” Rudi mengirim pesan lagi. “Ya, aku tahu, kamu pasti mikir aku Cuma main-main sama kamu. Aku bakalan buktiin ke kamu kalau aku serius. Malam ini aku akan putusin Ana.”
            Aku semakin gak karuan. Aku masih tetap diam dan memilih mematikan handphoneku.

            Keesokan harinya di sekolah, banyak mata yang menatap aku. Seperti aku hendak diterkam oleh mata-mata tajam mereka. Aku mengabaikannya. Saat di kelas aku bertanya pada Cia. Apa ada yang salah dari aku.
            “Ya ampun Yaya! Semua orang lagi ngomongin kamu. Katanya kamu ngerebut Rudi dari Ana”
            “Hah? Eh enggak Cia. Aku enggak mungkin begitu” aku hampir menangis
            “Aku tau Ya. Udah deh mending kamu jauhi Rudi. Daripada kamu nanti di apa-apain sama si Ana. Kamu kan tau Ana itu gimana sama orang yang berani cari masalah sama dia”
            Aku terdiam. Cia benar. Cepat atau lambat Ana akan mendatangi aku dan mungkin saja akan menjambak rambutku atau menampar aku. Aku merinding.
            Yang aku tahu Ana tidak bermaksud ingin melabrakku atau menjambak rambutku. Dia hanya memastikan benar atau tidak Rudi meninggalkan dia demi aku. Mana aku tahu. Aku bahkan tidak merespon kata-kata rudi sewaktu membahas perasaan dia ke aku.
            Saat dirumah, Rudi mengirim pesan. “ya, kamu mau jadi pacar aku?”
Entah apa yang merasuki diri Rudi. Aku bingung dan menjadi uring-uringan sepanjang hari dibuatnya. “Rudi, kamu ga bisa ninggalin Ana gitu aja. Dia wanita juga punya perasaan”
“Ya, sudah cukup antara aku dan Ana. Aku sudah jatuh cinta sama perempuan yang aku kagumi. Yaitu kamu!”
“Gak bisa Rud. Kamu gila ya? Aku bisa jadi bahan bulan-bulanan teman Ana. Aku tidak mau cari masala Rud” balasku kesal.
“Ya, aku tahu. Kamu sedang khawatir jika Ana atau temannya mendatangi kamu. Ya! Aku sudah putus dengan dia tadi malam. Dan barusan aku mengatakan pada Ana untuk tidak mengganggu atau menyentuh kamu sedikitpun. Ya! Aku juga sudah mengancam teman-teman Ana untuk jangan mendekati kamu sedikitpun. Aku  butuh kamu percaya aja dengan aku”
Aku tak membalasnya lagi. Aku pergi ke rumah Eni teman baikku. Aku ingin Eni memberi aku saran. Karena aku adalah tipe orang yang sulit dalam memilih.
“Menurut Eni aku harus gimana?” tanyaku bingung setelah aku bercerita semuanya.
“Terima aja Ya. Tidak ada salahnya juga. Siapa  tahu pacaran dengan Rudi bisa membantumu untuk lupain Nanda”
Aku terdiam. mungkin Eni benar. Tidak ada salahnya bukan? Rudi cukup tampan juga baik. Walau tingkah lakunya disekolah aneh dan pemalas saat belajar. Mungkin dengan aku jadian sama dia, dia bisa lebih baik di tingkat selanjutnya.

“Rudi kalau kamu memang benar serius sama aku. Kamu jumpai aku hari kamis di tepi sungai” aku mengirim pesan ke Rudi. Sengaja dipinggir sungai, kalau dia macam-macam denganku bisa aku lempar ke sungai saat itu juga.
“Kenapa harus kamis? Besok kamu kemana Ya?”
“Aku malas ke sekolah. Jadi bahan gosipan siswi lain” sebenarnya aku bohong. Aku hanya malas bersekolah karena belum aktif belajar.
“Ok Ya. Aku harap kamu punya jawaban baik”

Satu hari aku tidak berkomunikasi dengan Rudi sampai hari kamis 10 Juli 2014, tepat jam 14.00 rudi mengirim pesan.
“Ya! Aku sudah ditepi sungai. Aku tunggu kamu”
Satu jam kemudian baru aku pergi kesana dengan Eni.
Saat sampai aku melihat Rudi dengan satu temannya yang sedang menelpon seseorang sambil tertawa-tawa. Mungkin menelpon manusia favoritnya yang selalu membuat dia tertawa. Rudi tersenyum dengan tubuh kekarnya yang dibalut dengan kaus berwarna putih lengan pendek dan memakai celana pramuka. Itu celana sekolahnya. Kebiasaan setiap anak sekolah. Malas mengganti pakaiannya.
Dia menghampiri aku yang berhenti 10m darinya dan aku masih duduk di motor. Dia tersenyum semakin lebar. Aku hanya diam menatapnya. Eni pergi berjalan-jalan sekitaran tepi sungai. Mungkin dia bersekongkol dengan Rudi untuk membuatku salah tingkah.
Rudi sudah tepat di depanku. Aku turun dari motor dan berdiri. Dia memegang tanganku. Lalu menciumnya. Aku gemetar. Menarik paksa tanganku. Tapi aku kalah dengan genggaman Rudi yang begitu kuat. Dia menatap wajahku lamat-lamat.

5 menit. Rudi tak bicara apapun hanya menggenggam tanganku sambil duduk di sebuah kayu tua. Aku semakin tak karuan.

10 menit. Rudi masih tetap diam dan tanganku masih digenggamnya. Matanya tetap saja menatapku. Sesekali ia menatap temannya yang tertawa sendiri berbicara dengan manusia favoritnya di balik telepon.

15 menit. Eni sepertinya sudah bosan menunggu. Aku memutuskan bicara duluan.
“Rud, aku pulang deh. Ibuku pasti menunggu dirumah”
“Jawab dulu!”
Jawab apa? Kamu enggak ada bilang apa-apa Rudi. Gumamku dalam hati.
“Yaya! Kamu mau jadi pacar aku?”
Aku diam beberapa saat. Lalu mengangguk dua kali, ragu-ragu.
Rudi tersenyum kemudian berdiri. Mengusap-usap kepalaku. “Ya udah pulang sana”
Aku tersenyum haru. “Iya”. Aku menatap Eni. Tanpa aku bicara Eni sudah menghampiri dan naik di motor bersiap untuk pulang.
Aku menghidupkan motorku. Rudi mematikannya. Aku terkejut.
“Hati-hati. Kamu tidak boleh jatuh” Ucap Rudi.
Hanya ingin mengatakan itu saja dia membuat aku terkejut.
“Iya Rudi! ” Jawabku sambil tersipu malu. Aku pulang meninggalkan Rudi dan temannya yang sudah berhenti tertawa-tawa sendiri.

Itulah awal dimana aku memulai sebuah kisah, kisah yang tak bisa digantikan oleh kisah manapun. Kisah yang bagiku adalah kisah paling indah selama 20 tahun usiaku.

Bersambung…

Komentar

Postingan Populer