TIADA KISAH PALING INDAH (3)




Aku kelas 2 SMA, jurusan IPS. Rudi juga IPS, setelah berusaha keras masuk IPA, namun IPA menolak. Akhirnya dia kembali ke takdirnya, IPS, tepatnya IPS 2, satu kelas denganku. Bahkan duduk bersebrangan.

Saat itu Ramadhan. Seperti biasa, setiap Ramadhan selalu diadakan  buka bersama. Aku janjian dengan Rudi untuk pergi  bersama.
Pukul 17.00, dia belum juga datang menjemput.
Pukul 17.30, dia juga belum muncul.
Pukul 17.45, pesan masuk dari Rudi.
            “Ya, aku nabrak orang, dan orangnya tidak mau berdamai. Kamu tunggu sebentar lagi ya. Ayah aku akan datang mengurusnya”
            Aku khawatir, juga kesal. Aku sudah terlambat. Aku tak membalasnya. Aku langsung menelpon Tama, teman lelakiku.
            “Tama, tolong jemput aku ke rumah”
            “Rudi kemana Ya?”
            “Rudi sedang ada masalah”
            “Ok, aku ke rumah kamu sekarang”
            “Ok, aku tunggu” aku mematikan telepon.
Tama datang. Kami pergi.
Sampai di sekolah, Alfan sedang bercerita dengan teman-teman lelaki lainnya. Berdiri tidak jauh dari aku. Aku bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
            “Rudi itu dari dulu hobbynya jatuh dari motor, kalau tidak jatuh pasti nabrak orang” suara Alfan seperti sengaja dikeraskan agar aku mendengar.
            Teman lainnya tertawa sambil manggut-manggut paham dengan sifat Rudi yang Alfan perjelas dengan kejadian Rudi menabrak orang tadi.
Aku tak peduli aku menjauh. Lalu melihat samar-samar Rudi datang saat aku hendak mengambil minum. Dia menghampiri.
            “Ya, maaf. Aku telat hari ini” Rudi tersnyum.
            “Iya. Tidak apa. Aku harap kamu tidak ceroboh lagi” aku kesal.
            “Iya cantik!” dia tersenyum puas. “pulang sama aku ya!” ajaknya.
            “Iya. Tapi kamu tidak boleh menjatuhkan aku”
            “Hahaha… Aku tidak mungkin membuat bidadari terluka walau secuil”
            Aku tersenyum.
Kami pulang. Dia mengantar aku sampai di rumah. Dia tidak langsung pulang. Kami duduk di kursi panjang depan rumah.
            “Tadi aku liat kamu” dia menatapku. “Tapi kamu sedang bersama lelaki diatas motor” dia tersenyum.
            Aku terkejut, “Kamu kok tahu?”
            “Iya, aku jatuh di  daerah sini kok. Tidak jauh dari rumah kamu. Waktu aku sedang di amuk warga karena aku  uring-uringan memikirkan kamu yang sedang nungguin aku juga memikirkan laki-laki dewasa serta anaknya korban yang aku tabrak, disitulah kamu lewat tepat didepanku. Kamu sedang tertawa dengan teman lelakimu itu” dia tersenyum getir.
            Aku tersentak diam. Bodohnya aku. Kenapa aku tidak sadar ada dia tadi. Andai aku tahu aku bisa berhenti dan menolong dia yang dikeroyok warga. Wajahnya juga seperti ada bekas pukulan. Mungkin dia dipukul oleh korban tabrakan itu. “Maaf Rud! Aku tidak ada niat untuk menyakiti kamu. Aku hanya takut terlambat”
            “Iya Yaya. Aku tidak marah kok. Aku malah legah. Ada yang jemput kamu. Aku fikir kamu tidak akan bisa pergi ke sekolah tadi karena aku”
            Aku tersenyum legah. Dia baik sekali. Aku kagum.

2 bulan kemudian. Hubungan kami berjalan dengan baik. Berjumpa di sekolah. Malam saling menelpon. Dia juga sudah berkenalan dengan Ibu dan Bapak. Mereka suka dengan Rudi. Terutama ibuku. Bahkan dia selalu bertanya-tanya tentang Rudi. Rudi manusia terfavoritnya yang selalu dia ceritakan ke Bapak.

Suatu hari disekolah. Aku sedang bermain di kelas IPA. Ada Alfan disana. Dia menghampiri aku.
            “Yaya Yaya” dia seperti hendak mencari masalah. “Udahlah berhenti permainkan Rudi. Aku tahunya, kamu itu enggak ada rasa dengan Rudi. Kamu itu hanya berusaha dekati Nanda lagi, makanya kamu pacaran dengan Rudi”
            Aku terkejut. Ini sungguh tidak benar. Aku memilih Rudi karena aku ingin memulai hari baru dengan seseorang yang baru untuk melupakan Nanda. Melupakan manusia tercinta itu. Bukan untuk memiliknya lagi. Bukankah cinta tak harus memiliki? Namun merelakan?
            “Maksud kamu apa Fan?” suaraku tinggi.
            “Enggak usah pura-pura bodoh. Jangan mentang-mentang kamu pintar terus kamu mau bodoh-bodohin rudi. Kamu mau nipu dia!” dia berbicara dengan nada yang lebih tinggi. “Aku tahu Rudi udah cinta mati kamu buat. Sampai-sampai waktu Rudi mudik ke kampung dan kamu jatuh sewaktu pulang dari Kandis, aku dan Mansyah yang di amuk oleh Rudi. Dia bilang kami enggak bisa pegang amanah dia untuk jaga kamu selama dia mudik. Sial kali rasanya” dia berbicara seperti menghardikku.
            “Brengsek!” aku menangis berlari meninggalkan Alfan. Aku kembali ke kelas. Menangis disamping kelas tersendu-sendu. Wita dan Eni datang. Kebingungan lalu memelukku. Aku menceritakan kepada mereka apa yang telah terjadi hingga aku menangis.

Saat itu ternyata Rudi ada dibelakangku. Aku tidak sadar. Hanya Wita dan Eni yang tahu. Tapi mereka tak memberi tahu aku. Wita dan Eni menatap Rudi. Rudi pergi ke kelas IPA. Dia mencari Alfan dan menariknya keluar kelas. Mereka pergi ke arah belakang kelas.
Widia datang menghampiriku. Dia melihat aku menangis.
“Alfan buat kamu nangis ya?”
“Kamu kok bisa tahu?” tanyaku heran
“Itu Rudi sedang bertengkar dibelakang dengan Alfan. Rudi menumbuk tembok berkali-kali”
Aku terkejut. Aku langsung berlari masuk kekelas. Mengintip dari dalam melalui jendela. Jelas aku melihat Rudi sedang memarahi Alfan. Dan Rudi berkali-kali mengepalkan tangan dan menghantam tembok kelas IPA. Aku mengkhawatirkannya.
Aku kembali ketempat dudukku. Rudi datang. Dia berdiri di bingkai pintu. Berhenti, menatapku tersenyum. Lalu mendekat. Duduk disebelahku. Aku menarik tangannya. Berdarah. Aku tambah menangis. Dia tersenyum. Mengusap kepalaku berkali-kali.
“Kenapa tangan kamu ini?”
“Digigit semut tadi” dia bahkan bercanda disaat aku merasa sesak seperti ini.
“Serius Rudi” aku kesal.
“Aku tadi memukul semut yang bikin kamu nangis. Kamu jangan nangis lagi atau aku akan memukulnya dengan tangan satunya lagi”
Aku tambah menangis. Ini bukan cerita Dilan. Ini cerita nyata. Aku bahkan sangat mengingat hal ini. Terserah kalian mau bilang ini berlebihan. Itu hak kalian, yang jelas saat itu aku merasa menjadi manusia paling bahagia pernah memiliki laki-laki seperti dia.  Dia bahkan memukul tembok berkali-kali dan bertengkar dengan sahabatnya hanya karena aku menangis.

***
Hari sudah berganti minggu. Hubunganku dengan Alfan mulai membaik. Tenang saja, aku  tipe manusia yang mudah pelupa, termasuk mudah melupakan kesalahan orang lain.

Hari itu cerah, terik matahari menyengat. Awan pergi entah kemana. Tidak memberi kabar akankah hujan  turun hari ini atau tidak. Hanya satu dua siswa yang berlalu lalang didepan halaman sekolah. Panas. Mana mungkin ada yang mau berlama-lama di lapangan seluas dan seterik itu.

Aku duduk didepan kelas. Aku mengingat  satu hal. Tadi malam Nanda menelpon. Dia bahkan tak membahas tentang hubungan baruku dengan Rudi, dia hanya mengajak  bercerita tentang sekolahnya, juga kehidupan dia.

Rudi datang, duduk disampingku
            “Ngelamunin apa Ya?”
            “Eh” aku terkejut. “Enggak, ini mikirin Nanda” aku keceplosan. Rudi menatapku. Lalu pergi begitu saja.
            Aku memukul-mukul mulutku sendiri. Bodohnya aku. Aku menghentak-hentakkan kaki dilantai. Kesal. Orang-orang yang lewat memandangiku. Mereka pikir mungkin aku sudah tidak waras. Aku tak peduli, aku masuk kelas,  duduk dikursi. Aku tidurkan kepalaku diatas meja sambil menatap kursi Rudi disebelah. Masih teringat entengnya mulutku tadi berbicara bahwa aku sedang memikirkan Nanda.

            2 jam sudah berlalu. Rudi tidak masuk kelas selama 2 jam. Dia cabut. Pasti karena aku. 
Rahma memintaku menemaninya ke toilet. Aku menurut. Daripada di kelas juga. Aku hanya uring-uringan dan melamun.

Saat Rahma masuk kedalam toilet aku pergi kebelakang toilet hendak mengecek saja ada orang atau tidak. Ternyata Rudi disana. Di ujung. Duduk sambil melamun. Membakar dedaunan yang berjatuhan di lantai belakang toilet. Aku menatapnya dari jauh. Aku berjalan mendekati dia. Dia sadar, lalu menoleh kearahku. Dia membersihkan lantai tepat disampingnya, untuk aku duduk. Aku mendekat lalu duduk.
            “Kamu ngapain disini?” tanyaku
            “Enggak ada kok. Kamu sendiri ngapain kesini?”
            “Eh, aku sedang menemani Rahma, dia di toilet” dia mengangguk. “Maafin aku Rudi” aku menunduk. “Aku enggak bermaksud apa-apa kok. Tadi malam Nanda menelpon hanya menanya kabar saja” aku menjelaskan.
            “Siapa yang marah Yaya” dia tersenyum “Udah, itu enggak penting. Lupakan aja Ya” dia mengusap kepalaku. “Eh tadi pak Harfi mencariku tidak?”
            “Ya jelas lah. Dan aku jadi sasaran dia” aku kesal. Dia tertawa. Angin bertiup kencang. Dedaunan berjatuhan. Dan hujan mulai turun. Cuaca  memang susah ditebak. Tadi sangat panas dan sekarang hujan turun. Atau jangan-jangan awan sedang berpihak pada Rudi. Pergi, sembunyi dariku, dan saat aku menemukan Rudi awan datang juga menghampiri.

            Hujan semakin deras, Rudi berdiri. Aku juga berdiri “kita harus ke kelas. kalau tidak kita bisa basah disini” dia menarik tanganku berlari menerobos hujan. Berlari memegang tanganku. Rasanya waktu seperti berhanti berjalan. Aku menatap dia di depanku. Menatap punggungnya. Aku bahagia saat itu. Saat dia mengajakku berbasah-basahan di bawah hujan. Ini bukan film India. Ini nyata. Terserah kalian mau bilang ini sudah biasa. Tapi bagiku ini romantis.
            Sampai di kelas kami saling tatap lalu tertawa. Kami duduk didepan kelas menatap orang-orang yang berlalu lalang dibawah air hujan.
            “Yaya! Yaya!” suara memanggilku. Aku menoleh. Itu Rahma. Astaga, aku lupa bahwa Rahma masih di toilet. Rudi tertawa melihat Rahma yang hendak menangis karena sendirian di sana dan aku sedang kebingunan bagaimana menjemputnya. Hujan semakin deras sekali.

***

Apa yang kalian rasakan saat  kalian menemukan sosok seperti Rudi? Dia tidak pernah marah kepadaku sekalipun aku salah. Dia yang rela melakukan apa saja demi wanita sepertiku. Aku menganggapnya sempurna, sekalipun tidak di mata orang lain. Biarlah, banyak yang menghina mengapa aku mau dengan lelaki sepertinya. Aku tidak peduli. Yang aku tahu, aku bahagia saat bersama dia. Tidak ada sedikitpun sesalku pernah mengenalnya.

Hubungan kami sudah berjalan berbulan-bulan. Hari-hariku lebih menyenangkan dibandingkan sebelumnya. Pergi dan pulang sekolah dia selalu menjemput dan mengantar. Jika dia sedang ada urusan, dia meminta tolong kepada temannya untuk mengantarku pulang.

Terkadang saat pulang sekolah kami  tidak langsung pulang. Kami pergi ke Kandis untuk sekedar makan bakso kesukaanku. Atau hanya jalan-jalan.

Setiap sore dia datang ke rumah untuk belajar. Untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Banyak pelajaran yang dia tidak mengerti dari penjelasan guru namun mengerti saat aku menjelaskan. Aku senang jika dia bisa memahami pelajaran dariku. Setelah belajar kami  menonton film di laptopku. Atau sekedar cerita-cerita dengan ibu dan bapakku.

Terkadang, malam hari dia mengajak aku jalan. Tidak untuk makan atau membeli apa-apa. Aku tahu dia tidak punya uang dan aku memahami itu. Dia hanya mengajakku berkeliling desa atau membawaku ke rumahnya bertemu Umi dan Ayahnya.

Pernah satu malam, kami pergi ke pasar malam. Menikmati wahana sebentar, tiba-tiba dia menarik tanganku, mengajak pulang.
            “Ada apa Rud? Kok buru-buru?” aku bingung
            “Lihat, sendalku putus!” dia menunjuk kakinya. Aku melihat lalu tertawa sejadi-jadinya. Dia berjalan seperti orang pincang hingga parkiran. Kami pulang.
            Dijalan seperti ada yang aneh dari motornya. Terasa seperti sangat lambat. Dia berhenti melihat apa yang salah. Ternyata ban motornya bocor. Aku tertawa lagi. Kenapa malam ini dia begitu sial. Kami menuntunnya sampai ke rumahku. Sepanjang jalan kami bercerita dan tertawa.
            “Maafin aku ya!”
            “Maaf kenapa Rud?”
            “Lihatlah, aku begitu memalukan sekali malam ini didepanmu”
            “Hahaha… Aku bahkan merasa terhibur malam ini denganmu Rud.  Ini bukan kali pertama kamu memalukan seperti ini. Kamu ingat tidak saat kita kondangan di Beringin? Dan saat aku ajak kamu foto di pelaminan, resleting celana kamu turun dan terbuka?” aku tertawa, Rudi  juga tertawa terbahak-bahak. Perjalanan yang menyenangkan walau bagi sebagian orang ini memalukan.

Aku tidak pernah memberi contoh yang buruk bagi kalian tentang bagaimana kisah aku dengan dia. Setiap orang memiliki kisahnya masing-masing. Aku dengan Rudi dan kisah kami yang bagiku adalah kisah terbaik. Walaupun kami harus membandal saat pulang sekolah dan tidak langsung pulang. Saat setiap hari aku bersama Rudi terus. Saat jalan-jalan kami hanya makan di ampera, bahkan terkadang satu porsi berdua, karena kami masih pelajar, tidak punya banyak uang. Tapi bagiku saat itu adalah saat yang tak akan pernah tergantikan. Aku tidak meminta kalian mengikutinya. Hei, ini sudah tahun 2018, banyak perubahan dari hari ini dengan tahun 2014 disaat kami masih bersama. Jika kalian sedang menjalin komitmen kalian bisa melakukan hal-hal yang lebih baik dan berkesan dibandingkan apa yang aku lakukan dengan Rudi.

Bersambung…


Komentar

Postingan Populer