SAJAK RINDU
Andai jarak bisa ku lipat,
Andai waktu bisa ku singkat,
Tidak akan ada rasa sakitnya merindukan sosok dirimu,
Bersamamu adalah waktu yang tak mampu kubeli,
Masa yang selalu kunanti,
Detik yang bunyinya tak kusadari,
Seakan lama menjadi singkat dan singkat menjadi tiada berarti apa-apa,
Karena aku bukan pendusta diri,
Aku akui bahwa kamulah tempatku segalanya.
Aku bermimpi tentang suatu hari yang baik,
Menelusur tari didaun kering pada remang senja bersama dirimu,
Banyak puing rindu yang terpisah,
Dan aku akan merangkainya dengan cinta,
Rindu itu penuh teka-teki,
Tak bisa ditebak seberapa sering menghampiri hatiku,
Tak bisa diterka sebesar apa ukurannya,
Rindu ini sunyi yang bernyanyi,
Menalun syahdu bernada elegi,
Seakan membawa segala yang hilang kembali jatuh di pandanganku
Lalu aku senandungkan bait yang sangat kita gilai,
Bukan tentang sepetak langit melaikan semesta yang pernah kita rencanakan,
Bukan tentang badai melainkan terik pagi pertama kita mengikat janji.
Mari sama-sama berjuang,
Kau dengan caramu dan aku dengan caraku,
Kelak jika bertemu mari bercerita tentang perjuangan masing-masing
Tentang mengalahkan waktu dan jarak yang memisahkan kau dan aku,
Bahkan jika aku bosan jangan ragu untuk tetap bersama,
Sebab itu hanya sementara, harapan ku padamu masih selamanya.
Kau bagaikan senja, selalu ku tunggu,
Namun pergi dengan cepat dan menyisakan sepi dan kegelapan,
Aku memilih menuangkan cerita ini bukan pada secangkir kopi di pagi hari,
melainkan diatas sajadah dengan bisikan sajak-sajak doa indah yang mampu menenagkan hati
Karena doa adalah cara paling sederhana untuk melepas rindu yang sesungguhnya
Ada yang menunggumu dengan sabar,
Hanya demi sebatas kabar.
Andai waktu bisa ku singkat,
Tidak akan ada rasa sakitnya merindukan sosok dirimu,
Bersamamu adalah waktu yang tak mampu kubeli,
Masa yang selalu kunanti,
Detik yang bunyinya tak kusadari,
Seakan lama menjadi singkat dan singkat menjadi tiada berarti apa-apa,
Karena aku bukan pendusta diri,
Aku akui bahwa kamulah tempatku segalanya.
Aku bermimpi tentang suatu hari yang baik,
Menelusur tari didaun kering pada remang senja bersama dirimu,
Banyak puing rindu yang terpisah,
Dan aku akan merangkainya dengan cinta,
Rindu itu penuh teka-teki,
Tak bisa ditebak seberapa sering menghampiri hatiku,
Tak bisa diterka sebesar apa ukurannya,
Rindu ini sunyi yang bernyanyi,
Menalun syahdu bernada elegi,
Seakan membawa segala yang hilang kembali jatuh di pandanganku
Lalu aku senandungkan bait yang sangat kita gilai,
Bukan tentang sepetak langit melaikan semesta yang pernah kita rencanakan,
Bukan tentang badai melainkan terik pagi pertama kita mengikat janji.
Mari sama-sama berjuang,
Kau dengan caramu dan aku dengan caraku,
Kelak jika bertemu mari bercerita tentang perjuangan masing-masing
Tentang mengalahkan waktu dan jarak yang memisahkan kau dan aku,
Bahkan jika aku bosan jangan ragu untuk tetap bersama,
Sebab itu hanya sementara, harapan ku padamu masih selamanya.
Kau bagaikan senja, selalu ku tunggu,
Namun pergi dengan cepat dan menyisakan sepi dan kegelapan,
Aku memilih menuangkan cerita ini bukan pada secangkir kopi di pagi hari,
melainkan diatas sajadah dengan bisikan sajak-sajak doa indah yang mampu menenagkan hati
Karena doa adalah cara paling sederhana untuk melepas rindu yang sesungguhnya
Ada yang menunggumu dengan sabar,
Hanya demi sebatas kabar.
Komentar
Posting Komentar