Cinta, Benci, dan Kerinduan
Bersama dinginnya malam yang menusuk sampai keuluh hatiku, aku masih tetap bersama dengan rasa perih ini.
Ingin aku berjumpa denganmu lalu memukul wajahmu dengan sekuat tenagaku karena aku sangat mmbencimu.
Kau adalah luka bagiku yang tak akan pernah sembuh sekalipun aku membayar mahal untuk mengobatinya.
Bagaimana mungkin hati selemah aku bisa mencintai hatimu yang aku bahkan tidak tahu siapa pemilik sebenarnya.
Kau adalah lukaku yang paling dalam, namun kau adalah luka yang paling aku cintai.
Sadarkah dirimu aku selalu mengingatmu dikala siang hari, lalu mendoakanmu saat senja, memikirkanmu setiap malam, membayangkan hadirmu sebelum tidurku lalu menyadari bahwa engkau hanya ilusiku saat aku terbangun dipagi hari.
Entah mengapa aku terlalu bodoh untuk mencintaimu dan merindukan hadirnya dirimu padahal dalam hatiku penuh dendam kepadamu atas luka lama yang kau buat itu.
Aku benar-benar terjebak, aku ingin menjalani namun terlalu sakit, aku ingin berhenti namun aku terlalu mencintai.
Tak bisakah kau berubah dan kembali untuk memopangku agar aku mampu berdiri tegak.
Kau sudah menghancurkan impian indahku berkeping-keping, namun aku masih tetap terus membangun impian itu kembali.
Hanya saja aku takut kau menghancurkannya lagi.
Kau mengatakan bahwa kau mencintaiku, tapi mengapa tak pernah ada bahagia yang kau lukiskan padaku? kau hanya memberiku luka amat dalam yang bahkan aku tidak mampu menahan rasa sakitnya.
Akankah semua akan terus seperti ini selamanya?
Ingin aku berjumpa denganmu lalu memukul wajahmu dengan sekuat tenagaku karena aku sangat mmbencimu.
Kau adalah luka bagiku yang tak akan pernah sembuh sekalipun aku membayar mahal untuk mengobatinya.
Bagaimana mungkin hati selemah aku bisa mencintai hatimu yang aku bahkan tidak tahu siapa pemilik sebenarnya.
Kau adalah lukaku yang paling dalam, namun kau adalah luka yang paling aku cintai.
Sadarkah dirimu aku selalu mengingatmu dikala siang hari, lalu mendoakanmu saat senja, memikirkanmu setiap malam, membayangkan hadirmu sebelum tidurku lalu menyadari bahwa engkau hanya ilusiku saat aku terbangun dipagi hari.
Entah mengapa aku terlalu bodoh untuk mencintaimu dan merindukan hadirnya dirimu padahal dalam hatiku penuh dendam kepadamu atas luka lama yang kau buat itu.
Aku benar-benar terjebak, aku ingin menjalani namun terlalu sakit, aku ingin berhenti namun aku terlalu mencintai.
Tak bisakah kau berubah dan kembali untuk memopangku agar aku mampu berdiri tegak.
Kau sudah menghancurkan impian indahku berkeping-keping, namun aku masih tetap terus membangun impian itu kembali.
Hanya saja aku takut kau menghancurkannya lagi.
Kau mengatakan bahwa kau mencintaiku, tapi mengapa tak pernah ada bahagia yang kau lukiskan padaku? kau hanya memberiku luka amat dalam yang bahkan aku tidak mampu menahan rasa sakitnya.
Akankah semua akan terus seperti ini selamanya?
Komentar
Posting Komentar